Kamis, 25 Agustus 2016

My Angel Wife (ChanBaek Fanfiction)



Tittle: "my angel wife"
Author: Anggun Err
Cast: Baekhyun (yeoja) Chanyeol (namja)
Genre: married life, hurt, little angst, romance
Length: oneshoot
Rate: T (teen)
Disclaimer: ChanBaek milik Shippernya :3
Summary: "seorang istri yang memiliki hati seperti malaikat. Mencoba sabar dengan segala hal yang terus mendatanginya"

Ff ini sebelumnya pernah aku posting disalah satu fanspage di facebook.

Sorry for typo, jalan cerita membosankan, dll. Hargai karya author.
.
.
.
Happy reading...
.
.
.
~Anggun Err present~
.
.
.
"Aku berangkat dulu sayang" Chanyeol mencium kening Baekhyun ketika dirinya akan pergi ke kantor.
"Ne, hati-hati dijalan Yeol" Baekhyun tersenyum
"Jika terjadi sesuatu padamu segera hubungi aku, wajahmu terlihat pucat Baek..." Chanyeol mengelus pipi Baekhyun lembut. Baekhyun mengangguk pelan. Lalu mereka saling melambai, sampai mobil Chanyeol keluar dari gerbang rumah.

Baekhyun memasuki kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Entah mengapa tubuhnya merasa lemas dan kepalanya sedikit pusing. Ia baru saja memejamkan matanya, namun suara yang cukup keras membuatnya terkejut.

*BRAKK

Seseorang membuka pintu kamarnya dengan keras. Baekhyun mendudukan tubuhnya. Dan dilihatnya nyonya Park, atau lebih tepatnya ibu dari sang suami atau dengan kata lain ibu mertuanya. Memasuki kamarnya dengan tergesa. Menatap Baekhyun nyalang. Menarik selimut yang menutupi tubuh Baekhyun.
"Ada apa eomma?" tanya Baekhyun lirih
"Cih, ini masih pagi dan kau sudah akan tidur lagi? Kau tidak lihat banyak pekerjaan rumah yang harus kau selesaikan? Kau sudah mulai berani sekarang huh?" bentak nyonya Park, menarik tangan Baekhyun turun dari ranjang. Menghempaskan tubuh lemah Baekhyun kelantai keramik yang dingin. Tanpa sengaja sikunya terkatuk meja nakas disana.
"Mianhae eomma, tapi aku sedang tidak enak badan" lirih Baekhyun, menahan sakit disikunya yang sepertinya memar.
"Aku tidak peduli! Selesaikan pekerjaan rumah sekarang juga!" bentak nyonya Park, kemudian berlalu keluar kamar. Menyisakan Baekhyun yang sedang menahan tangisnya. Matanya memerah. Namun air mata yang tidak bisa dibendung lagi keluar begitu saja, mengalir dari mata indahnya. Disusul isakan kecil yang menyakitkan.
'Kapan eomma menerimaku? Kenapa eomma begitu membenciku?' batin Baekhyun sakit

#flashback

Kehidupan keluarga kecil Baekhyun awalnya baik-baik saja. Kebahagiaan terus berdatangan. Sampai akhirnya, saat nyonya besar park, atau lebih tepatnya nenek dari Chanyeol meninggal dunia semua berubah begitu cepat. Ibu Chanyeol mulai merubah sikapnya. Dulu begitu menyayangi Baekhyun. Tapi sekarang justru berkebalikan. Baekhyun pernah bertanya mengapa. Dan Baekhyun merasa menyesal karena menanyakannya.
"Sejak awal Chanyeol mengenalkanmu pada keluarga kami. Mengetahui asal-usulmu yang tidak jelas. Aku sudah tidak menyukaimu. Anakku sempurna, dia pantas mendapatkan yang sepadan dengannya. Tidak sepertimu Byun Baekhyun!" Ucap nyonya Park pelan namun penuh penekanan. Sejak saat itu, Baekhyun sering berpikir tentang dirinya. Chanyeol memang sangat sempurna. Tampan, baik hati, kaya, siapa yang tidak ingin menjadi pendampingnya. Dan begitu beruntungnya Baekhyun menjadi istrinya. Chanyeol benar-benar mencintainya. Terbukti dengan berani menikahi Baekhyun yang notabennya hanya seorang gadis panti asuhan. Yang tidak tau siapa orang tuanya. Terkadang Baekhyun menangis sendiri tanpa ada yang mengetahui, termasuk suaminya. Baekhyun selalu mencoba untuk terlihat baik-baik saja dihadapan Chanyeol. Dia tidak mau Chanyeol menghawatirkannya. Karena itu hanya akan mengganggu keharmonisan keluarganya.
.
.
.
"Sayang, aku pulang" Chanyeol memasuki kamarnya dan Baekhyun.
Baekhyun yang melihat sang suami pulang, dengan semangat menghampirinya dan membawa tas kerja Chanyeol.
"Tumben sudah pulang, hari ini tidak lembur?" Baekhyun melihat sekilas jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul 7 malam.
"Hey, seharusnya istriku ini senang melihat suaminya pulang lebih awal" Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun. Mendekatkan wajah mereka. Melepas kerinduan yang selalu mendera diantara mereka.
"Aku sudah menyiapkan air hangat" Baekhyun melepas pelukan mereka dan berjalan mengambil handuk untuk sang suami. Chanyeol tersenyum kecil menerima handuknya. Kemudian berlalu ke kamar mandi di kamar mereka.
.
.
.
Setelah selesai mandi, Chanyeol memakai piamanya. Dilihatnya Baekhyun sedang berada di balkon menatap langit malam. Chanyeol menghamipiri istrinya lalu memeluk Baekhyun dari belakang, membuat Baekhyun sempat terkaget. Dengan cepat Baekhyun menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi mulusnya.
"Sayang, kau menangis?" Chanyeol menatap Baekhyun khawatir
"A..anniyo, mataku hanya perih terkena angin malam" ucap Baekhyun gugup. Chanyeol masih ragu mendengar jawaban Baekhyun.
"Baekie, aku tau kau sedang berbohong, tertulis jelas dimatamu" Chanyeol membalikan tubuh Baekhyun, memegang kedua pipi Baekhyun hangat. Dengan tidak tahan menahan sesak dihatinya, air mata mengalir dari kedua mata indah milik Baekhyun.
"Mianhar Yeol..." lirih Baekhyun
"Waeyo? Ceritakan padaku sayang" Chanyeol membawa tubuh Baekhyun kepelukannya. Mengelus punggung ringkih itu, berusaha menenangkannya.
"Mianhae karena aku belum bisa memberimu baby" ujar Baekhyun masih terisak. Chanyeol tersenyum perih mendengarnya, tangan besarnya mengelus kepala Baekhyun lembut.
Hal inilah yang membuat Baekhyun terjaga setiap malam. Dia takut Chanyeol berpaling darinya, mengingat sudah hampir dua tahun mereka menikah. Ditambah dengan desakan sang ibu mertua yang selalu menyinggungnya.
"Anniyo, aku tidak terlalu memikirkan itu. Mungkin belum ada waktu yang tepat untuk Tuhan memberikannya. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha. Percayalah sayang..." ucap Chanyeol lembut
"Mianhae Yeol... Jangan tinggalkan aku..." lirih Baekhyun terisak kecil. Dia mengingat ucapan nyonya Park tadi siang 'jika kau tak kunjung hamil, aku akan menyuruh Chanyeol untuk menikah lagi'
"Hey kau bicara apa sayang? tentu saja tidak. Berhenti menangis, lebih baik kita tidur, aku tau kau lelah" Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun seperti koala, dengan refleks Baekhyun melingkarkan kakinya disekitar pinggang Chanyeol, kedua tangannya memeluk leher Chanyeol dan membenamkan wajahnya disana. Chanyeol membawa mereka kedalam kamar dan mulai tertidur diatas tempat tidur dengan saling memeluk. Sampai Chanyeol melupakan makan malamnya.
.
.
.
Chanyeol baru saja pergi ke kantor, sebenarnya hari ini Chanyeol tidak akan bekerja mengingat sang istri yang terlihat tidak sehat. Saat bangun tidur tadi, Baekhyun terus muntah, wajahnya pucat dan tersirat kelelahan disana, membuat Chanyeol khawatir tentu saja. Tapi dengan lembut Baekhyun berkata.
"Gwenchana sayang, aku baik-baik saja, nanti aku akan pergi sendiri ke dokter untuk memeriksa keadaanku" Chanyeol hanya bisa mengangguk berusaha mempercayai istrinya.

Baekhyun sedang mencuci piring bekas sarapan tadi. Tiba-tiba nyonya Park berteriak memanggilnya dari arah ruang keluarga. Baekhyun dengan terburu mencuci tangannya yang dipenuhi busa dan menghampiri sang ibu mertua.
"Ada apa eomma?" tanya Baekhyun saat dirinya sudah berdiri dihadapan nyonya Park yang sedang terduduk manis di sofa.
"Buatkan aku kopi" ucap Nyonya Park. Baekhyun yang sudah mengerti segera melangkahkan kakinya menuju dapur kembali. Beberapa saat setelahnya, Baekhyun membawa secangkir kopi dan meletakannya dimeja ruang keluarga.
"Ini eomma kopinya" nyonya Park mulai memegang cangkir dan langsung meminum kopinya.

*BRUSS

"Apa kau mau membunuhku huh!?" bentak nyonya Park, setelah menyemburkan kopi panas yang Baekhyun buat
"Waeyo eomma?" tanya Baekhyun khawatir
"Kau tanya kenapa? Justru aku yang bertanya kenapa kopi ini panas? Kau mau membuat lidahku terbakar?" bentak nyonya Park menatap Baekhyun nyalang.
"Mianhae eomma, meminum kopi memang harus dengan air yang panas supaya perut eomma tidak sakit nantinya. Seharusnya eomma meniupnya terlebih dahulu sebelum meminumnya" ucap Baekhyun takut
"Jadi kau menyalahkanku begitu? Kurang ajar sekali. Coba kau rasakan sendiri" nyonya Park menyiramkan kopinya ke lengan Baekhyun.
"A..aww pa..panas eomma" lirih Baekhyun
"EOMMA!"
.
.
.
"Cckk seharusnya kau menghubungiku sedari tadi, kau membuang waktu berhargaku Kkamjong" umpat Chanyeol pada seseorang ditelepon. Ayolah dia baru setengah jalan hendak ke kantor, tapi sahabatnya sekaligus rekan bisnisnya justru mengganggunya dengan menyuruh Chanyeol membawa berkas untuk meeting besok, membuat Chanyeol harus berbalik arah kembali ke rumah.
"Maafkan aku Park, pagi ini aku bangun terlambat. Jadi aku terburu-buru pergi ke kantor dan baru sempat menghubungimu". Jelas Jongin, seseorang yang dipanggil Kkamjong oleh Chanyeol tadi.
"Cck kau memang selalu terlambat. Cepatlah menikah dengan Kyungsoo. Kau terlalu lama"
"Ya aku akan segera mengirimkan undangan padamu nanti"
"Cih terserah kau saja. Aku tutup teleponnya" Chanyeol mengakhiri sambungan telepon dan membelokkan mobilnya kembali ke rumah.

Chanyeol memasuki rumah dengan tergesa. Ya walaupun dia seorang presdir sekaligus pemilik perusahaan 'Park Corp' tetap saja dia tidak boleh terlambat. Sebagai pemimpin yang baik memang harus seperti itu bukan? Langkah Chanyeol berhenti dipintu yang menghubungkan antara ruang depan dengan ruang keluarga. Telinganya mendengar teriakan seperti bentakan. Itu suara eommanya. Karena penasaran Chanyeol sedikit mengintip dari pintu yang terbuka lebar. Dilihatnya sang eomma yang seperti sedang memarahi istrinya.

"Mianhae eomma, meminum kopi memang harus dengan air yang panas supaya perut eomma tidak sakit nantinya. Seharusnya eomma meniupnya terlebih dahulu sebelum meminumnya"
"Jadi kau menyalahkanku begitu? Kurang ajar sekali. Coba kau rasakan sendiri"
"A..aww pa..panas eomma" lirih Baekhyun
"EOMMA!" teriak Chanyeol penuh emosi. Dia langsung menghampiri Baekhyun yang sedang mengaduh panas sambil menangis. Sungguh membuat hati Chanyeol sakit melihatnya.
"Apa yang eomma lakukan? Kita perlu bicara nanti eomma" ucap Chanyeol menatap tajam eommanya. Sedangkan nyonya Park menatap terkejut anaknya. Chanyeol Kembali menatap Baekhyun yang menunduk takut. membawa Baekhyun ke dapur, membersihkan lengan merah Baekhyun diair yang mengalir dari keran di westapel. Baekhyun masih terisak, namun tangisannya sudah berhenti.

"Apa eomma selalu berbuat kasar padamu?" Chanyeol membuka obrolan diantara mereka. Mereka sedang berada di kamar. Saling duduk berhadapan disisi ranjang. Dengan Chanyeol yang menatap Baekhyun tajam namun tersirat kesedihan disana. Dan Baekhyun yang hanya menunduk sambil memainkan perban ditangannya.
"Apa memar disikumu juga karena perbuatan eomma?" tanya Chanyeol lagi. Sukses membuat Baekhyun mengangkat wajahnya mematap Chanyeol
'Bagaimana kau tau?' batin Baekhyun
Seolah mengerti, Chanyeol menjawab
"Aku melihatnya saat kau tertidur semalam. Kau meringis sakit ketika pelukanku mengenai sikumu. Baek, ceritakan padaku apa yang tidak aku ketahui" ujar Chanyeol lirih, menggenggam lembut tangan Baekhyun. Namun Baekhyun dengan cepat menggelengkan kepalanya
"Tidak ada apa-apa Yeol, aku yang salah, jadi wajar jika eomma marah..." lirih Baekhyun
"Tapi itu sudah keterlaluan Baek!" tanpa sadar Chanyeol membentak Baekhyun. Baekhyun yang pertama kalinya dibentak Chanyeol justru menangis.
"Maafkan aku... Hiks.."
"Berhenti meminta maaf dan jelaskan semuanya" ucap Chanyeol datar. Dengan takut akhirnya Baekhyun menatap Chanyeol
"Eomma tidak menyukaiku hiks.. eomma bilang aku tidak pantas menjadi istrimu hiks.. karena aku tidak sepadan denganmu Yeol.. Aku hanya seorang anak panti asuhan yang tidak jelas siapa orang tuanya hiks.. Aku tidak pantas disandingkan dengan seorang Park Chanyeol yang sempurna hiks.." air mata Baekhyun mengalir deras. Tidak tahan mendengar ucapan sang istri. Chanyeol memeluk Baekhyun erat. Jemari lentik Baekhyun mencengkeram kemeja punggung Chanyeol untuk menahan tangisannya.
"Eomma bilang akan menyuruhmu menikahi yeoja lain jika aku tak kunjung hamil. Yeol... Jangan tinggalkan aku. Aku tidak memiliki siapapun selain dirimu" Baekhyun masih terisak, membuat kemeja Chanyeol basah oleh air matanya.
"Ssttt... Berhenti bicara sayang, aku tidak akan meninggalkanmu, kau akan tetap menjadi istriku selamanya, tidak peduli dengan kau hamil atau tidak. Aku akan tetap bersamamu" bisik Chanyeol menenangkan sang istri. Dia tidak menyangka jika selama ini istri mungilnya menanggung beban yang begitu berat. Chanyeol merasa gagal menjadi suami yang baik untuk Baekhyun.
"Kenapa kau tidak menceritakan ini padaku hhm"
"Aku tidak mau kau bertengkar dengan eomma. Aku mohon jangan marah pada eomma"
"Kau memang istri berhati malaikat Baek. aku tidak akan marah pada eomma. Tapi setelah ini kita akan tinggal di apartemen" Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol
"Dan meninggalkan eomma sendirian?" tanya Baekhyun masih terisak kecil. Chanyeol mengangguk.
"Andwae! Kasihan eomma" ucap Baekhyun. Sedangkan Chanyeol berdiri dan mulai mengemasi pakaian mereka. Baekhyun sempat protes. Namun pada akhirnya menurut.
.
.
.
"Kau mau pergi kemana sayang?" tanya nyonya Park panik saat melihat anaknya beserta menantunya menuruni tangga dengan membawa koper besar
"Kami akan tinggal di apartemen" ucap Chanyeol tanpa menatap eommanya. Sedangkan Baekhyun hanya menunduk takut disebelah Chanyeol.
"Dan meninggalkan eomma sendiri di rumah sebesar ini? Chanyeol eomma mohon jangan seperti ini. Eomma bisa jelaskan semuanya" mohon nyonya Park
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tidak menyangka mempunyai eomma yang jahat. Aku tidak tau apa yang mengubah eomma menjadi seperti ini"
"Eomma hanya ingin kau menjalani hidup bersama wanita yang tepat"
"Dan Baekhyun adalah wanita yang eomma maksud" ucap Chanyeol. Nyonya Park menatap Baekhyun yang masih setia menunduk, lalu menghampirinya. Membuat gerakan tangan seperti akan memeluk.

*BRAKK

Nyonya Park mendorong tubuh Baekhyun hingga tersungkur keras dilantai
"Apa yang eomma lakukan?" teriak Chanyeol, dengan segera menghampiri Baekhyun.
"Ssshh ssakit Yeol" Baekhyun menggigit bibirnya menahan tangis
"Pperutku sakit..." Baekhyun mencengkeram perutnya erat. Chanyeol menatap sesuatu yang mengalir di sekitar paha Baekhyun. Dan membelakkan matanya kaget.
"Kau berdarah Baek. Ayo kita ke rumah sakit" dengan tergesa Chanyeol kengangkat tubuh Baekhyun. Meninggalkan sang eomma yang masih mematung diam.
.
.
.
"Bagaimana keadaan istri saya uisa?" tanya Chanyeol saat seorang dokter keluar dari pintu ruangan Baekhyun
"Istri anda mengalami pendarahan hebat tuan. dan beliau mengalami keguguran. Saya harap anda bisa menerimanya" jelas sang dokter.
"Jadi istri saya sedang hamil?" tanya Chanyeol tidak percaya. Dokter itupun mengangguk
"Ya, usianya baru menginjak 3 minggu"
"Terima kasih uisa"
"Ya, saya pergi dulu" Chanyeol menangguk. Memasuki kamar perawatan Baekhyun. Dia tidak tau apa yang akan dikatakannya nanti pada Baekhyun. Dilihatnya Baekhyun yang sedang tertidur lelap disana. Chanyeol mendudukan dirinya dikursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam erat tagan Baekhyun
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku..." lirih Chanyol. Air mata mengalir tanpa isakan. Merasa terganggu, Baekhyun membuka matanya dilihatnya Chanyeol yang sedang menangis dalam diam
"Yeol..." lirih Baekhyun lemah
"Kau sudah bangun sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Chanyeol panik. Baekhyun menggeleng pelan
"Kenapa kau menangis?" Chanyeol menggeleng
"Kita awali semuanya lagi. Berjanji untuk tidak saling menutupi sesuatu apapun. Katakan padaku apa yang sedang kau rasakan Baek. Jangan memendamnya sendiri. Kau membuatku seperti suami yang tidak berguna" ucap Chanyeol mencium punggung tangan  Baekhyun. Baekhyun sempat bingung namun akhirnya mengangguk.
"Kau mengalami keguguran sayang" ucap Chanyeol. Baekhyun tersentak kaget
"Keguguran?" tanya Baekhyun tidak percaya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu Baek. Andai saja waktu itu eomma tid..."
"Sstt semunya bukan salahmu. Ini semua sudah rencana Tuhan. Jangan menangis" Baekhyun menghapus aliran sungai kecil dipipi Chanyeol. Namun dirinya justru menangis. Mereka saling berpelukan dan menangis.

Kebahagiaan yang seharusnya sempat datang diantara mereka justru hilang begitu saja. Namun mereka percaya bahwa suatu saat nanti mereka juga akan merasakan kebahagiaan. Ya kebahagiaan yang seutuhnya.



END



CHANBAEK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar