Tittle: "my angel wife"
Author: Anggun Err
Cast: Baekhyun (yeoja) Chanyeol (namja)
Genre: married life, hurt, little angst, romance
Length: oneshoot
Rate: T (teen)
Disclaimer: ChanBaek milik Shippernya :3
Summary: "seorang istri yang memiliki hati seperti
malaikat. Mencoba sabar dengan segala hal yang terus mendatanginya"
Ff ini sebelumnya pernah aku posting disalah satu fanspage
di facebook.
Sorry for typo, jalan cerita membosankan, dll. Hargai karya author.
.
.
.
Happy reading...
.
.
.
~Anggun Err present~
.
.
.
"Aku berangkat dulu sayang" Chanyeol mencium
kening Baekhyun ketika dirinya akan pergi ke kantor.
"Ne, hati-hati dijalan Yeol" Baekhyun tersenyum
"Jika terjadi sesuatu padamu segera hubungi aku,
wajahmu terlihat pucat Baek..." Chanyeol mengelus pipi Baekhyun lembut.
Baekhyun mengangguk pelan. Lalu mereka saling melambai, sampai mobil Chanyeol
keluar dari gerbang rumah.
Baekhyun memasuki kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas tempat
tidur. Entah mengapa tubuhnya merasa lemas dan kepalanya sedikit pusing. Ia
baru saja memejamkan matanya, namun suara yang cukup keras membuatnya terkejut.
*BRAKK
Seseorang membuka pintu kamarnya dengan keras. Baekhyun
mendudukan tubuhnya. Dan dilihatnya nyonya Park, atau lebih tepatnya ibu dari
sang suami atau dengan kata lain ibu mertuanya. Memasuki kamarnya dengan
tergesa. Menatap Baekhyun nyalang. Menarik selimut yang menutupi tubuh
Baekhyun.
"Ada apa eomma?" tanya Baekhyun lirih
"Cih, ini masih pagi dan kau sudah akan tidur lagi? Kau
tidak lihat banyak pekerjaan rumah yang harus kau selesaikan? Kau sudah mulai
berani sekarang huh?" bentak nyonya Park, menarik tangan Baekhyun turun
dari ranjang. Menghempaskan tubuh lemah Baekhyun kelantai keramik yang dingin. Tanpa
sengaja sikunya terkatuk meja nakas disana.
"Mianhae eomma, tapi aku sedang tidak enak badan"
lirih Baekhyun, menahan sakit disikunya yang sepertinya memar.
"Aku tidak peduli! Selesaikan pekerjaan rumah sekarang
juga!" bentak nyonya Park, kemudian berlalu keluar kamar. Menyisakan Baekhyun
yang sedang menahan tangisnya. Matanya memerah. Namun air mata yang tidak bisa
dibendung lagi keluar begitu saja, mengalir dari mata indahnya. Disusul isakan
kecil yang menyakitkan.
'Kapan eomma menerimaku? Kenapa eomma begitu membenciku?' batin
Baekhyun sakit
#flashback
Kehidupan keluarga kecil Baekhyun awalnya baik-baik saja. Kebahagiaan
terus berdatangan. Sampai akhirnya, saat nyonya besar park, atau lebih tepatnya
nenek dari Chanyeol meninggal dunia semua berubah begitu cepat. Ibu Chanyeol
mulai merubah sikapnya. Dulu begitu menyayangi Baekhyun. Tapi sekarang justru
berkebalikan. Baekhyun pernah bertanya mengapa. Dan Baekhyun merasa menyesal
karena menanyakannya.
"Sejak awal Chanyeol mengenalkanmu pada keluarga kami. Mengetahui
asal-usulmu yang tidak jelas. Aku sudah tidak menyukaimu. Anakku sempurna, dia
pantas mendapatkan yang sepadan dengannya. Tidak sepertimu Byun Baekhyun!"
Ucap nyonya Park pelan namun penuh penekanan. Sejak saat itu, Baekhyun sering
berpikir tentang dirinya. Chanyeol memang sangat sempurna. Tampan, baik hati,
kaya, siapa yang tidak ingin menjadi pendampingnya. Dan begitu beruntungnya Baekhyun
menjadi istrinya. Chanyeol benar-benar mencintainya. Terbukti dengan berani
menikahi Baekhyun yang notabennya hanya seorang gadis panti asuhan. Yang tidak
tau siapa orang tuanya. Terkadang Baekhyun menangis sendiri tanpa ada yang
mengetahui, termasuk suaminya. Baekhyun selalu mencoba untuk terlihat baik-baik
saja dihadapan Chanyeol. Dia tidak mau Chanyeol menghawatirkannya. Karena itu
hanya akan mengganggu keharmonisan keluarganya.
.
.
.
"Sayang, aku pulang" Chanyeol memasuki kamarnya
dan Baekhyun.
Baekhyun yang melihat sang suami pulang, dengan semangat
menghampirinya dan membawa tas kerja Chanyeol.
"Tumben sudah pulang, hari ini tidak lembur?" Baekhyun
melihat sekilas jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul 7 malam.
"Hey, seharusnya istriku ini senang melihat suaminya
pulang lebih awal" Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun. Mendekatkan wajah
mereka. Melepas kerinduan yang selalu mendera diantara mereka.
"Aku sudah menyiapkan air hangat" Baekhyun melepas
pelukan mereka dan berjalan mengambil handuk untuk sang suami. Chanyeol tersenyum
kecil menerima handuknya. Kemudian berlalu ke kamar mandi di kamar mereka.
.
.
.
Setelah selesai mandi, Chanyeol memakai piamanya. Dilihatnya
Baekhyun sedang berada di balkon menatap langit malam. Chanyeol menghamipiri
istrinya lalu memeluk Baekhyun dari belakang, membuat Baekhyun sempat terkaget.
Dengan cepat Baekhyun menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi mulusnya.
"Sayang, kau menangis?" Chanyeol menatap Baekhyun
khawatir
"A..anniyo, mataku hanya perih terkena angin
malam" ucap Baekhyun gugup. Chanyeol masih ragu mendengar jawaban
Baekhyun.
"Baekie, aku tau kau sedang berbohong, tertulis jelas
dimatamu" Chanyeol membalikan tubuh Baekhyun, memegang kedua pipi Baekhyun
hangat. Dengan tidak tahan menahan sesak dihatinya, air mata mengalir dari
kedua mata indah milik Baekhyun.
"Mianhar Yeol..." lirih Baekhyun
"Waeyo? Ceritakan padaku sayang" Chanyeol membawa
tubuh Baekhyun kepelukannya. Mengelus punggung ringkih itu, berusaha
menenangkannya.
"Mianhae karena aku belum bisa memberimu baby"
ujar Baekhyun masih terisak. Chanyeol tersenyum perih mendengarnya, tangan
besarnya mengelus kepala Baekhyun lembut.
Hal inilah yang membuat Baekhyun terjaga setiap malam. Dia
takut Chanyeol berpaling darinya, mengingat sudah hampir dua tahun mereka
menikah. Ditambah dengan desakan sang ibu mertua yang selalu menyinggungnya.
"Anniyo, aku tidak terlalu memikirkan itu. Mungkin belum
ada waktu yang tepat untuk Tuhan memberikannya. Kita hanya perlu berdoa dan
berusaha. Percayalah sayang..." ucap Chanyeol lembut
"Mianhae Yeol... Jangan tinggalkan aku..." lirih
Baekhyun terisak kecil. Dia mengingat ucapan nyonya Park tadi siang 'jika kau
tak kunjung hamil, aku akan menyuruh Chanyeol untuk menikah lagi'
"Hey kau bicara apa sayang? tentu saja tidak. Berhenti
menangis, lebih baik kita tidur, aku tau kau lelah" Chanyeol mengangkat tubuh
Baekhyun seperti koala, dengan refleks Baekhyun melingkarkan kakinya disekitar
pinggang Chanyeol, kedua tangannya memeluk leher Chanyeol dan membenamkan wajahnya
disana. Chanyeol membawa mereka kedalam kamar dan mulai tertidur diatas tempat
tidur dengan saling memeluk. Sampai Chanyeol melupakan makan malamnya.
.
.
.
Chanyeol baru saja pergi ke kantor, sebenarnya hari ini Chanyeol
tidak akan bekerja mengingat sang istri yang terlihat tidak sehat. Saat bangun
tidur tadi, Baekhyun terus muntah, wajahnya pucat dan tersirat kelelahan disana,
membuat Chanyeol khawatir tentu saja. Tapi dengan lembut Baekhyun berkata.
"Gwenchana sayang, aku baik-baik saja, nanti aku akan pergi
sendiri ke dokter untuk memeriksa keadaanku" Chanyeol hanya bisa mengangguk
berusaha mempercayai istrinya.
Baekhyun sedang mencuci piring bekas sarapan tadi. Tiba-tiba
nyonya Park berteriak memanggilnya dari arah ruang keluarga. Baekhyun dengan
terburu mencuci tangannya yang dipenuhi busa dan menghampiri sang ibu mertua.
"Ada apa eomma?" tanya Baekhyun saat dirinya sudah
berdiri dihadapan nyonya Park yang sedang terduduk manis di sofa.
"Buatkan aku kopi" ucap Nyonya Park. Baekhyun yang
sudah mengerti segera melangkahkan kakinya menuju dapur kembali. Beberapa saat setelahnya,
Baekhyun membawa secangkir kopi dan meletakannya dimeja ruang keluarga.
"Ini eomma kopinya" nyonya Park mulai memegang
cangkir dan langsung meminum kopinya.
*BRUSS
"Apa kau mau membunuhku huh!?" bentak nyonya Park,
setelah menyemburkan kopi panas yang Baekhyun buat
"Waeyo eomma?" tanya Baekhyun khawatir
"Kau tanya kenapa? Justru aku yang bertanya kenapa kopi
ini panas? Kau mau membuat lidahku terbakar?" bentak nyonya Park menatap
Baekhyun nyalang.
"Mianhae eomma, meminum kopi memang harus dengan air yang
panas supaya perut eomma tidak sakit nantinya. Seharusnya eomma meniupnya
terlebih dahulu sebelum meminumnya" ucap Baekhyun takut
"Jadi kau menyalahkanku begitu? Kurang ajar sekali.
Coba kau rasakan sendiri" nyonya Park menyiramkan kopinya ke lengan Baekhyun.
"A..aww pa..panas eomma" lirih Baekhyun
"EOMMA!"
.
.
.
"Cckk seharusnya kau menghubungiku sedari tadi, kau
membuang waktu berhargaku Kkamjong" umpat Chanyeol pada seseorang ditelepon.
Ayolah dia baru setengah jalan hendak ke kantor, tapi sahabatnya sekaligus
rekan bisnisnya justru mengganggunya dengan menyuruh Chanyeol membawa berkas
untuk meeting besok, membuat Chanyeol harus berbalik arah kembali ke rumah.
"Maafkan aku Park, pagi ini aku bangun terlambat. Jadi
aku terburu-buru pergi ke kantor dan baru sempat menghubungimu". Jelas Jongin,
seseorang yang dipanggil Kkamjong oleh Chanyeol tadi.
"Cck kau memang selalu terlambat. Cepatlah menikah
dengan Kyungsoo. Kau terlalu lama"
"Ya aku akan segera mengirimkan undangan padamu
nanti"
"Cih terserah kau saja. Aku tutup teleponnya"
Chanyeol mengakhiri sambungan telepon dan membelokkan mobilnya kembali ke
rumah.
Chanyeol memasuki rumah dengan tergesa. Ya walaupun dia seorang
presdir sekaligus pemilik perusahaan 'Park Corp' tetap saja dia tidak boleh
terlambat. Sebagai pemimpin yang baik memang harus seperti itu bukan? Langkah
Chanyeol berhenti dipintu yang menghubungkan antara ruang depan dengan ruang
keluarga. Telinganya mendengar teriakan seperti bentakan. Itu suara eommanya. Karena
penasaran Chanyeol sedikit mengintip dari pintu yang terbuka lebar. Dilihatnya
sang eomma yang seperti sedang memarahi istrinya.
"Mianhae eomma, meminum kopi memang harus dengan air yang
panas supaya perut eomma tidak sakit nantinya. Seharusnya eomma meniupnya terlebih
dahulu sebelum meminumnya"
"Jadi kau menyalahkanku begitu? Kurang ajar sekali. Coba
kau rasakan sendiri"
"A..aww pa..panas eomma" lirih Baekhyun
"EOMMA!" teriak Chanyeol penuh emosi. Dia langsung
menghampiri Baekhyun yang sedang mengaduh panas sambil menangis. Sungguh membuat
hati Chanyeol sakit melihatnya.
"Apa yang eomma lakukan? Kita perlu bicara nanti
eomma" ucap Chanyeol menatap tajam eommanya. Sedangkan nyonya Park menatap
terkejut anaknya. Chanyeol Kembali menatap Baekhyun yang menunduk takut.
membawa Baekhyun ke dapur, membersihkan lengan merah Baekhyun diair yang mengalir
dari keran di westapel. Baekhyun masih terisak, namun tangisannya sudah
berhenti.
"Apa eomma selalu berbuat kasar padamu?" Chanyeol membuka
obrolan diantara mereka. Mereka sedang berada di kamar. Saling duduk berhadapan
disisi ranjang. Dengan Chanyeol yang menatap Baekhyun tajam namun tersirat
kesedihan disana. Dan Baekhyun yang hanya menunduk sambil memainkan perban
ditangannya.
"Apa memar disikumu juga karena perbuatan eomma?"
tanya Chanyeol lagi. Sukses membuat Baekhyun mengangkat wajahnya mematap Chanyeol
'Bagaimana kau tau?' batin Baekhyun
Seolah mengerti, Chanyeol menjawab
"Aku melihatnya saat kau tertidur semalam. Kau meringis
sakit ketika pelukanku mengenai sikumu. Baek, ceritakan padaku apa yang tidak
aku ketahui" ujar Chanyeol lirih, menggenggam lembut tangan Baekhyun.
Namun Baekhyun dengan cepat menggelengkan kepalanya
"Tidak ada apa-apa Yeol, aku yang salah, jadi wajar
jika eomma marah..." lirih Baekhyun
"Tapi itu sudah keterlaluan Baek!" tanpa sadar
Chanyeol membentak Baekhyun. Baekhyun yang pertama kalinya dibentak Chanyeol
justru menangis.
"Maafkan aku... Hiks.."
"Berhenti meminta maaf dan jelaskan semuanya" ucap
Chanyeol datar. Dengan takut akhirnya Baekhyun menatap Chanyeol
"Eomma tidak menyukaiku hiks.. eomma bilang aku tidak
pantas menjadi istrimu hiks.. karena aku tidak sepadan denganmu Yeol.. Aku
hanya seorang anak panti asuhan yang tidak jelas siapa orang tuanya hiks.. Aku
tidak pantas disandingkan dengan seorang Park Chanyeol yang sempurna hiks.."
air mata Baekhyun mengalir deras. Tidak tahan mendengar ucapan sang istri. Chanyeol
memeluk Baekhyun erat. Jemari lentik Baekhyun mencengkeram kemeja punggung
Chanyeol untuk menahan tangisannya.
"Eomma bilang akan menyuruhmu menikahi yeoja lain jika
aku tak kunjung hamil. Yeol... Jangan tinggalkan aku. Aku tidak memiliki
siapapun selain dirimu" Baekhyun masih terisak, membuat kemeja Chanyeol
basah oleh air matanya.
"Ssttt... Berhenti bicara sayang, aku tidak akan
meninggalkanmu, kau akan tetap menjadi istriku selamanya, tidak peduli dengan
kau hamil atau tidak. Aku akan tetap bersamamu" bisik Chanyeol menenangkan
sang istri. Dia tidak menyangka jika selama ini istri mungilnya menanggung
beban yang begitu berat. Chanyeol merasa gagal menjadi suami yang baik untuk
Baekhyun.
"Kenapa kau tidak menceritakan ini padaku hhm"
"Aku tidak mau kau bertengkar dengan eomma. Aku mohon
jangan marah pada eomma"
"Kau memang istri berhati malaikat Baek. aku tidak akan
marah pada eomma. Tapi setelah ini kita akan tinggal di apartemen" Baekhyun
melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol
"Dan meninggalkan eomma sendirian?" tanya Baekhyun
masih terisak kecil. Chanyeol mengangguk.
"Andwae! Kasihan eomma" ucap Baekhyun. Sedangkan
Chanyeol berdiri dan mulai mengemasi pakaian mereka. Baekhyun sempat protes.
Namun pada akhirnya menurut.
.
.
.
"Kau mau pergi kemana sayang?" tanya nyonya Park panik
saat melihat anaknya beserta menantunya menuruni tangga dengan membawa koper
besar
"Kami akan tinggal di apartemen" ucap Chanyeol
tanpa menatap eommanya. Sedangkan Baekhyun hanya menunduk takut disebelah
Chanyeol.
"Dan meninggalkan eomma sendiri di rumah sebesar ini? Chanyeol
eomma mohon jangan seperti ini. Eomma bisa jelaskan semuanya" mohon nyonya
Park
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tidak menyangka
mempunyai eomma yang jahat. Aku tidak tau apa yang mengubah eomma menjadi
seperti ini"
"Eomma hanya ingin kau menjalani hidup bersama wanita
yang tepat"
"Dan Baekhyun adalah wanita yang eomma maksud"
ucap Chanyeol. Nyonya Park menatap Baekhyun yang masih setia menunduk, lalu
menghampirinya. Membuat gerakan tangan seperti akan memeluk.
*BRAKK
Nyonya Park mendorong tubuh Baekhyun hingga tersungkur keras
dilantai
"Apa yang eomma lakukan?" teriak Chanyeol, dengan
segera menghampiri Baekhyun.
"Ssshh ssakit Yeol" Baekhyun menggigit bibirnya
menahan tangis
"Pperutku sakit..." Baekhyun mencengkeram perutnya
erat. Chanyeol menatap sesuatu yang mengalir di sekitar paha Baekhyun. Dan
membelakkan matanya kaget.
"Kau berdarah Baek. Ayo kita ke rumah sakit" dengan
tergesa Chanyeol kengangkat tubuh Baekhyun. Meninggalkan sang eomma yang masih mematung
diam.
.
.
.
"Bagaimana keadaan istri saya uisa?" tanya Chanyeol
saat seorang dokter keluar dari pintu ruangan Baekhyun
"Istri anda mengalami pendarahan hebat tuan. dan beliau
mengalami keguguran. Saya harap anda bisa menerimanya" jelas sang dokter.
"Jadi istri saya sedang hamil?" tanya Chanyeol
tidak percaya. Dokter itupun mengangguk
"Ya, usianya baru menginjak 3 minggu"
"Terima kasih uisa"
"Ya, saya pergi dulu" Chanyeol menangguk. Memasuki
kamar perawatan Baekhyun. Dia tidak tau apa yang akan dikatakannya nanti pada
Baekhyun. Dilihatnya Baekhyun yang sedang tertidur lelap disana. Chanyeol
mendudukan dirinya dikursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam erat tagan
Baekhyun
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menjagamu dengan
baik, maafkan aku..." lirih Chanyol. Air mata mengalir tanpa isakan. Merasa
terganggu, Baekhyun membuka matanya dilihatnya Chanyeol yang sedang menangis
dalam diam
"Yeol..." lirih Baekhyun lemah
"Kau sudah bangun sayang? Apa ada yang sakit?"
tanya Chanyeol panik. Baekhyun menggeleng pelan
"Kenapa kau menangis?" Chanyeol menggeleng
"Kita awali semuanya lagi. Berjanji untuk tidak saling
menutupi sesuatu apapun. Katakan padaku apa yang sedang kau rasakan Baek. Jangan
memendamnya sendiri. Kau membuatku seperti suami yang tidak berguna" ucap Chanyeol
mencium punggung tangan Baekhyun.
Baekhyun sempat bingung namun akhirnya mengangguk.
"Kau mengalami keguguran sayang" ucap Chanyeol.
Baekhyun tersentak kaget
"Keguguran?" tanya Baekhyun tidak percaya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu Baek. Andai saja
waktu itu eomma tid..."
"Sstt semunya bukan salahmu. Ini semua sudah rencana
Tuhan. Jangan menangis" Baekhyun menghapus aliran sungai kecil dipipi Chanyeol.
Namun dirinya justru menangis. Mereka saling berpelukan dan menangis.
Kebahagiaan yang seharusnya sempat datang diantara mereka
justru hilang begitu saja. Namun mereka percaya bahwa suatu saat nanti mereka
juga akan merasakan kebahagiaan. Ya kebahagiaan yang seutuhnya.
END
CHANBAEK
